Corat-Coret

Monday, September 17, 2007

Pindah Alamat

Halaman Blog saya sudah berpindah alamat..

Silahkan cek ke http://www.wahyu-hidayat.com

Thursday, March 29, 2007

Herman Van Breen, Banjir Jakarta, dan Inlander Bodoh

Tahukah anda, bahwa pada tahun 1918, Prof. Dr. Herman
Van Breen ditugaskan oleh Departement Waterstaat
pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan studi
pencegahan banjir di Batavia . Akhirnya, Van Breen
melahirkan sebuah konsep spektakuler dan visioner pada
jaman itu yang dikenal dengan proyek Banjir Kanal
Barat dan Banjir Kanal Timur. Ide konsep itu
sederhana, yaitu membatasi volume air yang masuk ke
Batavia melalui 13 sungai, diantaranya Sungai Cakung,
Jati Kramat, Buaran, Sunter, Cipinang, Ciliwung,
Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan,
Mookervart, dan Angke. Selanjutnya, limpahan debit air
akan dibuang melalui sisi kiri dan kanan kota ke laut.

Pada tahun 1922, dimulailah pembangunan tahap pertama,
yaitu Banjir Kanal Barat. Setelah Indonesia merdeka,
Mimpi Herman Van Breen untuk melanjutkan pembangunan
Banjir Kanal Timur sebagai tahap kedua untuk
membebaskan Batavia dari banjir tidak pernah terwujud.
Proyek Banjir Kanal Timur baru disahkan dalam rencana
Tata Kota DKI pada tahun 1973. Sekarang sudah 34 tahun
Banjir Kanal Timur masuk rencana Tata Kota DKI, tetapi
hanya 7 km dari 23 km dalam rencana Banjir Kanal Timur
yang sudah digali.

Betapa visionernya rencana Van Breen, saat itu luas
Batavia hanya 2.500 Ha, tetapi sudah membuat rencana
penggalian Kanal Barat dan Timur sebesar itu. Proyek
Banjir Kanal Barat yang berhasil diwujudkannya telah
menyelamatkan wilayah Batavia dari banjir selama 40
tahun. Sekarang wilayah Jakarta sudah seluas 65.000 Ha
atau 26 kali Batavia, tetapi bukannya Banjir Kanal
Timur diwujudkan, malah Banjir Kanal Barat tidak
pernah dipelihara dengan baik dan diperluas.

Sutiyoso beralasan bahwa untuk mewujudkan Banjir Kanal
Timur dibutuhkan dana yang sangat besar, yaitu sekitar
4,9 Trilyun dan Pemda DKI tidak mampu menyediakan dana
sebesar itu. Tetapi tahukah anda bahwa proyek Busway
40 koridor menghabiskan dana 21 Trilyun dan harus
diselesaikan selama dua tahun. Padahal busway yang
direncanakan bukanlah jalur-jalur penting yang bisa
mengalihkan pengendara mobil pribadi ke busway kecuali
Koridor I yang melalui jalur Sudirman - Thamrin.
Betapa bodohnya pemimpin bangsa ini.

Bila saja Herman Van Breen menyaksikan banjir yang
menenggelamkan 2/3 Jakarta saat ini dan tidak pernah
terwujudnya proyek Banjir Kanal Timur selama 89 tahun
sejak dia cetuskan, pastilah dia akan menangis
tersedu-sedu, "Betapa bodohnya inlander-inlander ini".

Monday, February 19, 2007

changes

I feel unhappy, I feel so sad
I've lost the best friend, that I ever had.
She was my woman, I love her so.
But it's too late now, I've let her go.

We shared the years, we shared each day.
In love together, we found a way.
But soon the world, had it's evil way.
My heart was blinded, love went astray.

It took so long, to realize.
And I can still hear her last goodbyes.
Now all my days, are filled with tears.
Wish I could go back, and change these years.

I'm going through changes.
I'm going through changes.

Sunday, February 11, 2007

Robert Faurisson, Sejarawan yang Menentang Mitos Holocaust

Pada tanggal 11-12 Desember lalu diselenggarakan seminar internasional bertema Review of Holocaust: Global Vision. Salah satu pembicara dalam seminar ini adalah Robert Faurisson, seorang sejarawan terkemuka asal Perancis. Kehadirannya dalam seminar ini memiliki resiko yang sangat besar karena UU di Perancis menyebutkan bahwa segala bentuk sikap mempertanyakan kebenaran Holocaust dipandang sebagai kejahatan kriminal. Namun, Faurisson adalah ilmuwan yang teguh memegang kebenaran dan keteguhan itu terus dipegangnya sejak puluhan tahun yang lalu. Dalam kesempatan ini, kami mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh tentang Robert Faurisson.

Robert Faurisson dilahirkan di Shepperton, England, pada tanggal 25 Januari 1929. Ayahnya orang Perancis dan ibunya orang Skotlandia. Faurisson melalui sekolah di berbagai negara, mulai dari Singapura,Jepang, dan akhirnya di Perancis. Faurisson menuntut ilmu sejarah di Universitas Sorbonne hingga meraih gelar doktor. Dia pernah mengajar mata kuliah sastra Perancis modern dan kontemporer di Universitas Sorbone, lalu mengajar mata kuliah kritik teks dan dokumen sejarah, sastra, dan media.

Setelah melakukan berbagai penelitian, Faurisson menemukan bahwa sejarah mengenai holocaust atau pembunuhan massal enam juta Yahudi oleh Nazi pada Perang Dunia Kedua adalah sebuah fakta sejarah yang sangat diragukan kebenarannya. Akibat keberanian mengungkapkan fakta itu, Faurisson diberhentikan dari pekerjaannya. Dia juga dihadapkan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara. Bukan itu saja, antara tahun 1978 and 1993, Faurisson juga mengalami berbagai serangan fisik akibat keberaniannya mempertanyakan kebenaran mitos holocaust. Di antara karya tulis Faurisson mengenai masalah ini adalah makalah "Kamar Gas Auschwitz Secara Fisik Tidak Mungkin Ada”. Faurisson tinggal di kota Vichy, Perancis, bersama istri dan tiga anak, serta lima cucu.

Dalam kunjungannya ke Teheran untuk menjadi pembicara dalam Seminar Holocaust, Faurisson diwawancarai secara eksklusif oleh harian Tehran Times. Dalam wawancara ini, Faurisson menjelaskan secara terbuka berbagai kebohongan dalam mitos holocaust. Menurut Faurisson, holocaust memang layak disebut mitos. Mitos adalah kepercayaan terhadap sesuatu yang didasarkan kepada ketidaktahuan atau kebodohan, bukan berdasarkan fakta empiris.

Pada tahun 1970-an, Faurisson melaukan penelitian mengenai kamar gas yang konon digunakan Nazi untuk melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang Yahudi. Ketika dia mengunjungi kamar gas di Auschwitz, dia menemukan beberapa keanehan. Para penjaga kamar gas itu menyatakan bahwa gas yang dipakai untuk membunuhi orang-orang Yahudi adalah gas berjenis Zyklon B. Di kamar gas yang sudah menjadi situs pariwisata dan dikunjungi jutaan turis itu, ditaruh berkaleng-kaleng gas Zyklon B. Zyklon B adalah zat yang sangat berbahaya dan mematikan. Jika ada orang dibunuh dengan gas itu, maka jasadnya pun sangat berbahaya dan tidak boleh disentuh.

Namun anehnya, di kamar gas Auschwitz, disebut-sebut ada 2000 orang Yahudi yang dibunuh secara bersamaan dengan gas Zyklon B. Padahal, kondisi ruangan itu sangat tidak mungkin memuat 2000 orang secara bersamaan. Selain itu, bila gas Zykon B disemprotkan ke ruangan itu, yang terkena dampaknya bukan hanya orang-orang di ruangan tersebut, melainkan juga tentara Nazi sendiri, karena kamar itu memiliki empat lubang terbuka. Gas akan menyebar kemana-mana dan membunuh orang-orang di luar ruangan. Selain itu, gas Zyklon B tidak bisa hilang begitu saja, melainkan akan menempel di dinding-dinding ruangan, di lantai, di atau atap.

Penjaga kamar gas Auschwitz menceritakan bahwa setelah orang-orang Yahudi itu mati, tentara Nazi akan masuk sambil merokok dan berbincang-bincang dengan santai, lalu mengambil jasad-jasad itu dan membakarnya. Hal ini jelas tidak mungkin mengingat bahwa gas Zyklon B masih tersebar dalam ruangan. Orang-orang harus menggunakan masker dan baju khusus untuk masuk ke ruangan yang masih terkontaminasi Zyklon B. Selain itu, terdapat tiga buah pintu di kamar gas itu, yang membuka ke arah dalam. Adanya ketiga pintu itu jelas membuat pengamanan kamar gas menjadi sangat rentan dan gas mudah merembes keluar. Selain itu, fakta bahwa pintu membuka ke arah dalam padahal di dalam ruangan itu ada 2000 orang, merupakan fakta yang aneh karena bila benar demikian, pintu itu menjadi tidak bisa terbuka.

Faurisson juga pernah melakukan penelitian ke kamar gas di AS yang dipakai untuk membunuh para terdakwa yang mendapat vonis mati dari pengadilan. Kamar gas di AS dilengkapi dengan sistem pengamanan yang sangat ketat, antara lain pintu besi yang sangat rapat sehingga tidak memungkinkan gas keluar dan kipas angin khusus untuk mengusir gas keluar ruangan setelah si terdakwa mati. Gas yang keluar dari ruangan itu juga disalurkan ke tanki khusus untuk menetralisir racunnya. Setelah eksekusi dilakukan, dokter dan para pegawainya baru masuk ke ruangan itu beberapa jam kemudian dengan menggunakan baju khusus dan masker. Jasad si terdakwa pun kemudian dicuci bersih, baru kemudian dibawa ke pemakaman.

Fakta di AS memperlihatkan betapa untuk membunuh satu orang saja di kamar gas, pengamanan yang harus dilakukan sedemikian rumitnya. Sementara di Auschwitz disebut-sebut ada 2000 orang dibunuh bersamaan di kamar gas yang sama sekali tidak ada pengamanan. Tentu saja fakta ini menunjukkan adanya keanehan. Dari berbagai keanehan yang ditemukannya, Faurisson menyimpulkan bahwa kisah mengenai pembunuhan ribuan orang-orang Yahudi di kamar gas Auschwitz secara teknis tidak mungkin terjadi. Faurisson menulis makalah tentang hal ini di harian Le Monde Diplomatique. Enam minggu kemudian, yaitu tanggal 21 Ferbruari 1979, 34 orang profesor mengeluarkan deklarasi yang menyatakan, "Tidak boleh ditanyakan bagaimana mungkin secara teknis pembunuhan massal itu terjadi. Secara teknis, pembunuhan itu bisa terjadi karena memang sudah terjadi." Deklarasi para profesor itu jelas bertentangan dengan sikap ilmiah para akademisi. Dan sejak itu pula, Faurisson diberhentikan dari pekerjaannya di universitas. Selain diberhentikan, Faurisson pun diseret ke pengadilan dan mengalami berbagai bentuk penghinaan.

***
Dalam pidatonya di seminar Holocaust, Teheran, Robert Faurisson mengatakan bahwa Presiden Ahmadinejad telah menggunakan kata yang tepat, yaitu bahwa kepercayaan orang Yahudi terhadap Holocaust adalah mitos belaka, yaitu kepercayaan yang didasarkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan. Menurut Faurisson, di Perancis, setiap orang berhak untuk tidak percaya kepadaTuhan, namun dilarang untuk tidak mempercayai Holocaust atau bahkan sekedar meragukannya. Larangan untuk meragukan kebenaran Holocaust diresmikan dalam UU Perancis tanggal 13 Juli 1990. Dalam UU itu disebutkan bahwa hukuman bagi orang-orang yang meragukan kebenaran Holocaust adalah penjara satu tahun atau denda hingga 45,000 Franc.

Faurisson mengatakan, ada banyak alasan yang membuktikan bahwa Holocaust adalah mitos belaka. Para pendukung mitos Holocaust tidak bisa menunjukkan satu dokumen pun mengenai kejadian kriminal pembunuhan terhadap enam juta Yahudi itu. Mereka tidak bisa menunjukkan bukti sisa-sisa senjata yang digunakan dalam kamar gas itu. Mereka juga tidak bisa memberikan satu nama pun yang menjadi saksi dalam kejadian ini. Kalaupun ada saksi yang diajukan, kesaksiannya banyak ditemukan ketidakuratan.

Faurisson bukanlah satu-satunya sejarawan yang membuktikan kebohongan mengenai Holocaust atau kamar gas untuk pembunuhan massal orang-orang Yahudi itu. Di antara sejarawan yang menggugat kebohongan Holocaust adalah Arthur Robert Butz pada tahun 1976, dalam tulisannya, “Tipuan Pada Abad ke-20”, Fred Leuchter pada tatahun 1988 dalam tulisannya, “Laporan Teknis Mengenai Eksekusi Kamar Gas di Auschwitz, Birkenau, dan Majdanek”, Germar Rudolf pada tahun 2000 dalam tulisannya “Membedah Holocaust”, Barbara Kulaszka pada tahun 1992 dalam tulisannya, “Benarkah Enam Juta Tewas?”. Pada tahun 1995, Eric Conan dalam majalah L’Express menulis artikel yang mendukung penelitian Faurisson. Padahal, Conan semula adalah penentang Faurisson. Namun, setelah melakukan penelitian di kamar gas yang kini menjadi Museum Auschwitz dan telah dikunjungi oleh 25-30 juta turis, Conan menyimpulkan, “Semua yang ada di sana adalah kebohongan.” Selain itu, kita juga mengenal nama-nama seperti Professor Roger Garaudy dan David Irving. Para sejarawan yang mengutak-atik Holocaust itu kemudian diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara atau denda uang.

Di antara dalil yang disampaikan para sejarawan, yang menunjukkan kebohongan mitos Holocaust adalah sebagai berikut. Pertama, sepanjang masa Perang Dunia Kedua, jutaan orangYahudi di Eropa hidup normal dan jutaan dari mereka bekerja di pabrik-pabrik Jerman. Kedua, adanya fakta yang disembunyikan dari publik, bahwa selama ini di Jerman ada undang-undang yang sangat melindungi orangYahudi. Pembunuhan terhadap satu orang Yahudi, meskipun dilakukan oleh seorang tentara, akan divonis hukuman mati. Ketiga, klaim bahwa pembantaian massal di kamar gas Nazi dilakukan dengan menggunakan gas Zyklon-B secara teknis tidak mungkin dilakukan. Kondisi kamar gas Nazi sangat tidak aman dan zat Zyklon B dengan mudah akan tersebar ke luar ruangan dan mematikan semua orang, bukan cuma para tawanan Yahudi yang ada di dalam kamar gas saja.

Faurisson menyatakan, memang benar ada orang-orang Yahudi yang tewas dalam perang, sebagaimana juga orang-orang non Yahudi banyak yang menjadi korban perang itu, baik karena konflik senjata atau karena kelaparan dan penyakit. Menurut Faurisson, dalam Perang Dunia Kedua memang benar ada kamp konsentrasi yang menawan orang-orang Yahudi. Namun, bila benar ada enam juta orang Yahudi yang tewas dalam pembunuhan massal Nazi, bagaimana mungkin sedemikian banyak orang Yahudi selamat setelah perang dan sebagiannya bahkan dikirim ke negara yang baru didirikan orang-orang Zionis, yaitu Israel?

Menurut Faurisson, klaim mengenai keberadaan kamar gas dan klaim mengenai pembunuhan massal enam juta orang Yahudi bersumber dari kebohongan sejarah yang sama, yang telah dimanfaatkan oleh Zionisme Internasional. Korban dari kebohongan sejarah ini adalah orang-orang Palestina. Orang-orang Zionis, dengan dibantu oleh para pemimpin Barat, terus berusaha mempertahankan mitos Holocaust dan menghalang-halangi usaha para ilmuwan untuk mengkritisi mitos ini karena Holocaust adalah senjata utama Israel. Dengan holocaust, Israel memiliki alasan atau justifikasi untuk mendirikan negara khusus Yahudi di atas tanah milik bangsa Palestina.

Faurisson hingga di usia senja terus menyuarakan penentangannya terhadap mitos Holocaust. Akibatnya, sepanjang hidupnya, Faurisson berkali-kali dihadapkan ke pengadilan. Bulan November lalu dia kembali dikenai denda setelah melakukan wawancara dengan Televisi Sahar Iran. Kehadirannya dalam Seminar Internasional Holocaust di Teheran juga mendatangkan resiko besar terhadap dirinya. Sepulangnya dari Teheran, Faurisson ditangkap polisi dan akan dihadapkan ke pengadilan. Sepanjang hidupnya, Faurisson juga telah mengalami serangan fisik sepuluh kali dan dua kali di antaranya hampir merenggut jiwanya. Dalam kehidupan sehari-hari pun, Faurisson dan keluarga dikucilkan oleh masyarakat. Namun, menurut Faurisson, setiap kali ia mengalami semua bentuk penyiksaan itu, dia selalu memikirkan nasib bangsa Palestina, dan untuk itu, dia merasa tidak boleh mengeluh.

Holocaust..... kebohongan yang diciptakan sebagai dalih untuk menguasai tanah Palestina....
Tujuannya adalah membuat satu negara untuk melindungi bangsa Yahudi...

The Worst

The worst
by : Keith Richard

Well I said from the first
I am the worst kind of guy
For you to be around
Tear me apart
Including this old heart
That is true
And never ever let you down
You shouldn't stick with me
You trust me too much, you see
Take all the pain
It's yours anyway
Yeah kid...
Oh, put the blame on me
You ought to pass, you see
Somewhere outside
I threw love aside
Now it's a tragedy
I said from the first
I am the worst kind of guy
For you to be around

Wednesday, February 07, 2007

introducing.. my hamsie

wah..akhir2 ini gw lagi demen bgt maen ama hewan2 peliharaan baru gw, gak baru2 amat siih ud 3 bulanan.. gw punya 4 ekor hamster ( dwarf) sepasang hamster winter white (pearl) dan sepasang lagi hamster roborovski (white face) < http://www.hamsterific.com/ >. mereka lucu2 dan gemesin, dan yang paling gw demen mereka blo'on bangged.. sering bertingkah konyol.. LOL

perkenalkan..inilah mereka :
kuncrit


kancrut & kuncrit


robson


roxy

where have you been..

Kalo halaman blog gw ini bisa ngomong, mungkin kata itu yang keluar..

dari lebaran puasa, ke lebaran haji sampe asyura.. dari kemarau sampe jakarta kebanjiran.. baru sekarang liat2 en nulis blog maning, selepas lebaran emang gw banyak kesibukan, ada 2 kali pindahan kantor cabang, server banyak yang bermasalah, dapet proyek deadline nya mepet, mobil ngadat, internet rumah diputus, plus punya hewan peliharaan baruu, dll.. sampe2 pas taun baru kena demam berdaraah.. fiuuuh..

sekarang2 Alhamdulillah ud gak sibuk-sibuk bgt, jadi gw sempetin buat nulis2 lagi.. mudah2an ke depannya juga begitu, jadi saya dapat bercerita, mengutarakan pemikiran, mengeluarkan uneg2 lewat blog ini.. BANZAAAAIII...

Wednesday, October 11, 2006

Keep It Simple

Gw pernah baca artikel berikut.. and its nice..

Dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi. Tetapi, saat menghadapi suatu masalah seringkali kita terkecoh, sehingga walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.

Mari kita coba lihat kasus di bawah ini :

1. Kasus kotak sabun yang kosong terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong. Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah di pak ke departemen pengiriman. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.

Tetapi ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil yang dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.


2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!


3. Suatu hari, seorang pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Sang pemilik apartemen mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah tersebut. Seorang pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Pakar kedua meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Tetapi, pakar ketiga hanya menyarankan satu hal, bahwa inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu. Pakar tadi hanya menyarankan kepada sang pemilik apartemen untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, supaya para pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan 'menunggu' dan merasa 'tidak menunggu lift'. It works!

Filosofi KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya.

Tuesday, October 03, 2006

Makes you think, doesn't it?

In the 6th century BC Greek mathematician Pythagoras said that earth is round - but few agreed with him.
Greek astronomer Aristarchos said in the 3rd century BC that earth revolves around the sun - but the idea was not accepted.
In the 2nd century BC Greek astronomer Erastosthenes accurately measured the distance around the earth at about 40,000 km (24,860 miles) - but nobody believed him.
In the 2nd century AD Greek astronomer Ptolemy stated that earth was the centre of the universe - most people believed him for the next 1,400 years.